{"id":4403,"date":"2024-09-06T08:11:52","date_gmt":"2024-09-06T01:11:52","guid":{"rendered":"https:\/\/fahum.umsu.ac.id\/blog\/?p=4403"},"modified":"2024-09-06T10:20:30","modified_gmt":"2024-09-06T03:20:30","slug":"lirik-lagu-arteri-feast-menangisku-di-pundakmu-kau-bilang-muntahkan-semua-pilu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fahum.umsu.ac.id\/blog\/lirik-lagu-arteri-feast-menangisku-di-pundakmu-kau-bilang-muntahkan-semua-pilu\/","title":{"rendered":"Lirik Lagu \u201cArteri\u201d &#8211; .Feast: Menangisku di Pundakmu Kau Bilang Muntahkan Semua Pilu"},"content":{"rendered":"<h1>Lirik Lagu \u201cArteri\u201d &#8211; .Feast: Menangisku di Pundakmu Kau Bilang Muntahkan Semua Pilu<\/h1>\n<p><!--more--><\/p>\n<p>Lagu &#8220;Arteri&#8221; dari .Feast menghadirkan tema yang dalam dan emosional, menggambarkan perjalanan hidup dan perasaan yang kompleks. Dengan lirik yang penuh makna, .Feast mengajak pendengar untuk merenungkan hubungan, trauma, dan pencarian kebahagiaan di tengah kerumitan kehidupan. Lagu ini juga mengeksplorasi bagaimana seseorang bisa terjebak dalam pola pikir dan pengalaman yang menyakitkan. Melalui gaya musik yang khas dan lirik puitis, &#8220;Arteri&#8221; menjadi salah satu karya yang menarik perhatian dan meninggalkan kesan mendalam bagi para pendengarnya.<\/p>\n<p><script src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js?client=ca-pub-0032959964480376\" async=\"\" crossorigin=\"anonymous\"><\/script><br \/>\n<!-- 2023des1 --><br \/>\n<ins class=\"adsbygoogle\" style=\"display: block;\" data-ad-client=\"ca-pub-0032959964480376\" data-ad-slot=\"7381647052\" data-ad-format=\"auto\" data-full-width-responsive=\"true\"><\/ins><br \/>\n<script>\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\n<\/script><\/p>\n<h2>Lirik Lagu \u201cArteri\u201d &#8211; .Feast<\/h2>\n<p>Telanjang, ku telanjang menyicipi dunia<br \/>\nHatiku berkata<br \/>\nSelamat datang di dua puluh<br \/>\nKau tambal kegagalanku<br \/>\nKau masuk ke dalam\u2005darah,\u2005berdansa dan berserah<br \/>\nUntuk\u2005sekian jam saja<\/p>\n<p>Sembunyikanmu dari dunia<br \/>\nHilang\u2005akal saat kau ada<br \/>\nBerputar, mana ujungnya?<\/p>\n<p>Menangisku di pundakmu<br \/>\nKau bilang muntahkan semua pilu<br \/>\nAku pura-pura tak tahu, aku pura-pura tak sadar<br \/>\nKau hanya trauma (Meluncur di Arteri)<\/p>\n<p>Aku ingin tak menghiraukan masa depan<br \/>\nNamun hidup apa hanya delapan kali sebulan?<br \/>\nSalahku memikirkan untuk menyelamatkan<br \/>\nSaat kaulah titik perkara<\/p>\n<p><script src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js?client=ca-pub-0032959964480376\" async=\"\" crossorigin=\"anonymous\"><\/script><br \/>\n<!-- 2023des1 --><br \/>\n<ins class=\"adsbygoogle\" style=\"display: block;\" data-ad-client=\"ca-pub-0032959964480376\" data-ad-slot=\"7381647052\" data-ad-format=\"auto\" data-full-width-responsive=\"true\"><\/ins><br \/>\n<script>\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\n<\/script><\/p>\n<p>Menangisku di pundakmu<br \/>\nKau bilang muntahkan semua pilu<br \/>\nAku pura-pura tak tahu, aku pura-pura tak sadar<br \/>\nKau hanya trauma (Di Arteri Pondok Indah)<\/p>\n<p>Aku berlari, lari, lari<br \/>\nLari mengejar dirimu<br \/>\nCinta macam apa<br \/>\nYang dijaga ketat oleh perantara?<br \/>\nIndraku mati rasa<br \/>\nKubuang jauh dalam<br \/>\nTempat sampah (Di Arteri Pondok Indah)<\/p>\n<p>Kau hanya trauma<br \/>\nMeluncur di Arteri<br \/>\nHanya lagu lama<br \/>\nBernyanyi di Arteri<\/p>\n<p>Menangisku di pundakmu<br \/>\nKau bilang muntahkan semua pilu<br \/>\nAku pura-pura tak tahu, aku pura-pura tak sadar<br \/>\nKau hanya trauma (Meluncur di arteri)<\/p>\n<p>Setetes bahagia yang selalu kau cari<br \/>\nMengalir berkelana meluncur di arteri<br \/>\nSetetes bahagia yang selalu kau cari<br \/>\nMengalir berkelana meluncur di arteri<\/p>\n<p><script src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js?client=ca-pub-0032959964480376\" async=\"\" crossorigin=\"anonymous\"><\/script><br \/>\n<!-- 2023des1 --><br \/>\n<ins class=\"adsbygoogle\" style=\"display: block;\" data-ad-client=\"ca-pub-0032959964480376\" data-ad-slot=\"7381647052\" data-ad-format=\"auto\" data-full-width-responsive=\"true\"><\/ins><br \/>\n<script>\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\n<\/script><\/p>\n<h2>Makna Lagu \u201cArteri\u201d- .Feast<\/h2>\n<p>Lagu &#8220;Arteri&#8221; dari band .feast memiliki makna yang cukup mendalam dan bisa diartikan dalam berbagai cara, tergantung pada perspektif pendengarnya. Secara umum, lagu ini menggambarkan tema tentang perjuangan, keputusasaan, dan pencarian makna dalam hidup.<\/p>\n<p>Berikut adalah beberapa interpretasi dari lirik lagu &#8220;Arteri&#8221;:<\/p>\n<ul>\n<li>\n<h4>Perjuangan Internal<\/h4>\n<p>Lirik lagu ini sering kali mengandung unsur perjuangan batin dan konflik pribadi. &#8220;Arteri&#8221; bisa melambangkan aliran kehidupan dan emosi yang kompleks dalam diri seseorang. Lagu ini mungkin menggambarkan bagaimana seseorang berusaha mencari jalan keluar dari kesulitan dan tantangan yang dihadapinya.<\/li>\n<li>\n<h4>Pencarian Makna<\/h4>\n<p>Lagu ini juga bisa diartikan sebagai perjalanan untuk menemukan makna hidup. &#8220;Arteri&#8221; sebagai istilah medis merujuk pada pembuluh darah yang membawa darah ke seluruh tubuh, sehingga dalam konteks lagu, ini bisa melambangkan pencarian untuk menemukan sesuatu yang memberikan arti atau arah dalam kehidupan.<\/li>\n<li>\n<h3>Ketidakstabilan Emosional<\/h3>\n<p>Lirik yang kuat dan intens dari lagu ini bisa mencerminkan ketidakstabilan emosional dan mental. Lagu ini mungkin menggambarkan bagaimana seseorang merasa terjebak dalam arus kehidupan yang penuh ketidakpastian dan mencari cara untuk mengatasi atau memahami perasaan tersebut.<\/li>\n<\/ul>\n<p><script src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js?client=ca-pub-0032959964480376\" async=\"\" crossorigin=\"anonymous\"><\/script><br \/>\n<!-- 2023des1 --><br \/>\n<ins class=\"adsbygoogle\" style=\"display: block;\" data-ad-client=\"ca-pub-0032959964480376\" data-ad-slot=\"7381647052\" data-ad-format=\"auto\" data-full-width-responsive=\"true\"><\/ins><br \/>\n<script>\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\n<\/script><\/p>\n<ul>\n<li>\n<h4>Kritik Sosial atau Politik<\/h4>\n<p>Beberapa lirik mungkin juga mengandung unsur kritik sosial atau politik, menggambarkan ketidakpuasan terhadap keadaan sekitar dan perjuangan untuk perubahan. Ini bisa mencerminkan bagaimana individu merasa tertekan oleh sistem atau situasi sosial yang ada.<\/p>\n<p>Secara keseluruhan, &#8220;Arteri&#8221; adalah lagu yang menawarkan banyak lapisan makna dan memungkinkan pendengar untuk mengeksplorasi dan menginterpretasikan pesan yang disampaikan berdasarkan pengalaman dan perspektif pribadi mereka.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lirik Lagu \u201cArteri\u201d &#8211; .Feast: Menangisku di Pundakmu Kau Bilang Muntahkan Semua Pilu<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4405,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-4403","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fahum.umsu.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4403","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fahum.umsu.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fahum.umsu.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahum.umsu.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahum.umsu.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4403"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/fahum.umsu.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4403\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4426,"href":"https:\/\/fahum.umsu.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4403\/revisions\/4426"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fahum.umsu.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4405"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fahum.umsu.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4403"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahum.umsu.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4403"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fahum.umsu.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4403"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}