• Home
  • Informasi
  • Artikel
  • Berita
  • Kesehatan
  • Informasi
  • Opini
  • Istilah Hukum
  • Politik
Info Hukum
  • Home
  • Informasi
  • Artikel
  • Berita
  • Kesehatan
  • Informasi
  • Opini
  • Istilah Hukum
  • Politik
No Result
View All Result
  • Home
  • Informasi
  • Artikel
  • Berita
  • Kesehatan
  • Informasi
  • Opini
  • Istilah Hukum
  • Politik
No Result
View All Result
Info Hukum
No Result
View All Result

Menjadi ‘Bangsa Pahlawan’

Artikel Fahum by Artikel Fahum
November 12, 2021
in Uncategorized
0
Menjadi ‘Bangsa Pahlawan’

Ungkapan di atas disampaikan oleh Presiden pertama Indonesia Soekarno dalam pidatonya pada Peringatan Hari Pahlawan 10 November 1961 . Sebuah ungkapan yang sangat populer dan selalu dianggap relevan dikutip untuk jadi entry point di setiap perbincangan yang terkait dengan tema kepahlawanan.

Secara eksplisit, ungkapan tersebut menegaskan bahwa perihal menghargai jasa pahlawan adalah sebuah condition sine qua non, syarat mutlak bagi sebuah bangsa bila memang bangsa itu ingin menjadi sosok bangsa yang besar (the great nation).

Sebagai sebuah aforisma, tentunya ungkapan di atas bukan cuma sekedar untaian kata biasa. Galibnya, kita percaya sebuah pepatah itu pasti mengandung muatan pesan yang sarat dengan kearifan dan kebajikan. Cuma saja, masalahnya terkadang kita begitu naif dan tidak cukup cerdas untuk menangkap makna kontekstual dari pesan pepatah tersebut.

Adalah fakta yang tak terbantahkan, perihal menghargai pahlawan boleh jadi bangsa Indonesia adalah salah satu jagonya. Lebih dari seratus gelar Pahlawan Nasional telah disematkan kepada sosok yang dianggap berjasa sebagai pejuang bangsa di republik ini. Bahkan ada kecenderungan tiap tahun –setiap memperingati momentum Hari Pahlawan—daftar jumlah Pahlawan Nasional itu terus bertambah.

Namun tulisan ini sama sekali bukan ingin membahas soal tradisi penganugerahan gelar Pahlawan Nasional tersebut. Penulis cuma ingin mengajak kita semua untuk memperbincangkan ikhwal kepahlawan dari sisi dan perspektif lain yang lebih bermanfaat buat kebaikan bangsa ini ke depan.

Jika kita hubungkan dengan ungkapan yang menjadi awal tulisan ini, adalah ironis jika sampai hari ini makna korelasi pepatah tersebut tak kunjung terbukti. Meskipun negara ini cukup produktif dalam memberikan penghargaan kepahlawan, nyatanya hingga kini kita belum juga menjelma jadi “bangsa yang besar”.

Paradoksal ini agaknya perlu kita renungkan. Boleh jadi selama ini ada kekeliruan dalam menghayati dan memaknai arti kepahlawanan tersebut.

Memang benar, selama ini ada kecenderungan setiap kali memperingati momentum hari besar negara –termasuk Hari Pahlawan– kita sering kali terjebak dalam kestatisan dan kebanalan apresiasi.

Sepertinya yang kita lakukan tahun ke tahun agaknya hanyalah ritual-ritual seremonial pengenangan belaka. Tidak lebih.

Selalu kita sejenak menghening cipta untuk mengenang jasa pahlawan bangsa yang telah gugur, namun setelah itu nyatanya tak ada kesan yang membekas dalam diri kita yang mampu mengilhami kita untuk berbuat sesuatu, sesuai apa yang telah diperbuat oleh para sosok pahlawan yang dikenang tersebut.

Dan melulu bangsa ini setiap tahun terus menambah daftar pahlawan nasionalnya, tapi nyatanya tetap saja tak ada nilai signifikansinya untuk kebesaran bangsa.

Padahal, kalau mau dimaknai lebih arif lagi, sesungguhnya spirit kepahlawanan (heroisme) itu bukan cuma sekedar persoalan simbol dan atribut semata yang identik dengan romantisme masa lalu. Tidak cukup hanya berhenti pada apresiasi seremonial saja. Dan tidak signifikan juga tentunya hanya dengan menambah daftar pahlawan nasional setiap tahunnya.

Lebih dari itu, mestinya kita harus pahami bahwa kepahlawan itu juga adalah sebuah konsep dinamis tentang nilai-nilai keluhuran dan idealitas yang notabene selalu dibutuhkan kapanpun oleh sebuah bangsa untuk menjaga dan menjamin survivalitasnya.

Artinya, kisah pahlawan (epos) bukan hanya ada di masa lampau saja, tapi juga idealnya harus bisa tetap dimunculkan dan dilestarikan dalam narasi kekinian, bahkan untuk masa depan bangsa ini.

Dalam konteks kekinian, untuk mendapatkan nilai relevansi dari tradisi penghargaan terhadap jasa pahlawan tersebut, tentunya perlu dilakukan upaya reaktualisasi nilai-nilai kepahlawanan secara kontekstual.

Maksudnya, sudah saatnya kita memaknai ikhwal kepahlawanan itu lebih lentur lagi, di mana pahlawan itu bukan lagi melulu dipahami sebagai istilah historis-subjektif-personal an sich, yang khas melulu disematkan pada segelintir anak-anak bangsa pilihan yang dinilai pantas dinobatkan sebagai sosok pahlawan. Bukan sekedar itu.

Di sini, kepahlawanan lebih dipahami sebagai sebuah wujud konfigurasi mentalitas-kolektif seluruh elemen anak bangsa yang peduli dan menghargai nilai-nilai sejati kepahlawanan.

Secara konseptual, gagasan ini sangat mengidealkan agar seluruh anak bangsa dapat aktif menginternalisasi nilai-nilai luhur kepahlawanan dalam diri pribadinya dan kemudian bisa pula secara kreatif mengejawantahkannya dalam realitas kehidupan sosial berbangsa dan bernegaranya.

Jika kultur apresiasi kepahlawanan seperti ini benar-benar berkembang dan tumbuh-subur secara massif dan maksimal di tengah-tengah masyarakat bangsa, maka sebagai implikasinya, diharapkan akan melahirkan sebuah atribut mentalitas kepahlawan yang lebih determinan dan komunal, yakni dengan nama “Bangsa Pahlawan”, bukan “Pahlawan Bangsa”.

Terminologi “Bangsa Pahlawan” yang dimaksud di sini adalah sosok sebuah bangsa yang mayoritas warganya memiliki mentalitas dan etos kepahlawanan yang sangat menonjol, sehingga secara akumulatif mampu mengukuhkan dan menjastifikasi bangsa tersebut layak disebut sebagai “Bangsa Pahlawan”.

Adapun standar sebuah “Bangsa Pahlawan” adalah meniscayakan rakyatnya secara komunal selalu menempatkan kepentingan bangsa di atas segala kepentingan sektoral yang ada. Sehingga dengan demikian sangat dimungkinkan sosok bangsa pahlawan akan lebih kuat dan progresif mengantisipasi segala tantangan dan prahara yang melanda.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia, sudah pantaskah dikategorikan sebagai “Bangsa Pahlawan”?

Jawabannya, sepertinya belum. Tapi bukan tidak mungkin.

Bercermin dari potret kontemporer Indonesia yang buram dan carut-marut dewasa ini, justru sepertinya lebih pas bila Indonesia dikatakan sebagai “bangsa-pecundang”, di mana warganya cenderung lebih gemar memainkan lakon “pahlawan picik”, yakni menjadi pahlawan untuk kepentingan diri dan kelompoknya sendiri. Sedangkan kepentingan bangsa selalu dinomorsekiankan.

Dan kiranya dapat diduga, inilah penyebab mengapa bangsa Indonesia tampaknya begitu sulit bangkit dari keterpurukan selama ini. Indonesia belum menjadi “Bangsa Pahlawan”, pahlawan untuk dirinya sendiri, apakah lagi pahlawan untuk dunia.

Kendati demikian, tentunya sebagai sebuah bangsa yang (katanya) berdaulat dan bermartabat, selayaknya kita pantas tetap optimis untuk bisa menjadi sosok “Bangsa Pahlawan”. Bangsa Indonesia punya potensi untuk itu.

Dan peringatan Hari Pahlawan tahun ini adalah salah satu momentum yang tepat untuk segera memulai mewujudkan obsesi tersebut. Kita harus optimis, dengan menjadi bangsa pahlawan kelak Indonesia akan mampu keluar dari aneka persoalan yang menderanya dan benar-benar menjadi “Bangsa yang Besar”. Semoga. (*)

Sumber : Tajdid.id

Previous Post

Muhammadiyah Tolak Permendikbud 30, Ini Alasannya

Next Post

Kontroversi “Tanpa Persetujuan Korban” dalam Permendikbudristek No 30 Tahun 2021

Next Post
Kontroversi “Tanpa Persetujuan Korban” dalam Permendikbudristek No 30 Tahun 2021

Kontroversi “Tanpa Persetujuan Korban” dalam Permendikbudristek No 30 Tahun 2021

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Mengenal PPPK: Syarat Pendaftaran dan Jenis Formasinya
  • Syarat Pengalaman Mengajar untuk Menjadi PNS Guru, Ini Penjelasannya
  • KUR vs Pinjaman Non-KUR BRI, Ini Perbedaan Syaratnya
  • Panduan Pemutihan BPJS Kesehatan 2026 untuk Peserta
  • Syarat Menggunakan BPJS Kesehatan di Luar Domisili

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • August 2024
  • July 2024
  • June 2024
  • May 2024
  • April 2024
  • March 2024
  • February 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • November 2023
  • October 2023
  • September 2023
  • August 2023
  • July 2023
  • June 2023
  • May 2023
  • April 2023
  • March 2023
  • February 2023
  • January 2023
  • December 2022
  • November 2022
  • October 2022
  • September 2022
  • August 2022
  • July 2022
  • June 2022
  • May 2022
  • April 2022
  • March 2022
  • February 2022
  • January 2022
  • December 2021
  • November 2021
  • October 2021
  • September 2021
  • June 2021
  • May 2021
  • April 2021
  • March 2021
  • February 2021
  • January 2021
  • December 2020
  • November 2020
  • October 2020
  • September 2020
  • August 2020
  • July 2020
  • June 2020
  • May 2020
  • April 2020
  • February 2020
  • January 2020
  • December 2019
  • November 2019
  • October 2019
  • September 2019
  • August 2019
  • July 2019
  • June 2019
  • April 2019
  • March 2019
  • February 2019
  • January 2019
  • December 2018
  • November 2018
  • October 2018
  • September 2018

Categories

  • Artikel
  • Bansos
  • Berita
  • BPJS Kesehatan
  • Cek Bansos
  • Ekonomi
  • Ekonomi
  • Event
  • Gadget
  • Hiburan
  • Hukum
  • Info
  • Info Bansos
  • Informasi
  • Islami
  • Istilah Hukum
  • Kesehatan
  • Konser
  • Kuliner
  • News
  • Opini
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pilgub Sumut
  • Politik
  • PSMS Medan
  • Teknologi

Categories

  • Artikel
  • Bansos
  • Berita
  • BPJS Kesehatan
  • Cek Bansos
  • Ekonomi
  • Ekonomi
  • Event
  • Gadget
  • Hiburan
  • Hukum
  • Info
  • Info Bansos
  • Informasi
  • Islami
  • Istilah Hukum
  • Kesehatan
  • Konser
  • Kuliner
  • News
  • Opini
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pilgub Sumut
  • Politik
  • PSMS Medan
  • Teknologi

Browse by Tag

Aplikasi Cek Bansos bansos bansos 2025 Bansos BPNT bansos cair Bansos Oktober 2025 bansos pkh bansos pkh 2025 Bantuan Pangan Non-Tunai Bantuan Pendidikan bantuan sosial Bantuan Sosial 2025 Bantuan Subsidi Upah Bantuan Subsidi Upah 2025 berita bansos hari ini blt kesra BLT Kesra 2025 BPJS Kesehatan BPNT BPNT 2025 bsu 2025 Cara cek bansos Kemensos Cara cek bansos online cek bansos cekbansos.kemensos.go.id Cek bansos Kemensos Cek Bansos Online DTKS DTSEN info bansos jadwal penyaluran bansos kemensos kip kuliah 2025 Kredit Usaha Rakyat kredit usaha rakyat BRI KUR BRI 2025 pip pip 2025 pkh PKH 2025 Program Indonesia Pintar program keluarga harapan Syarat KUR BRI Syarat KUR BRI 2025 uang bansos
  • Home
  • Informasi
  • Artikel
  • Berita
  • Kesehatan
  • Informasi
  • Opini
  • Istilah Hukum
  • Politik

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • Informasi
  • Artikel
  • Berita
  • Kesehatan
  • Informasi
  • Opini
  • Istilah Hukum
  • Politik

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.